Minggu, 27 Maret 2016

Ada Senja Yang Lain

 Sejak kamu pergi, aku tetaplah menjadi aku. Aku yang selalu merindukanmu, aku yang selalu memanggil namamu diam-diam. Sejak hari mengerikan itu, semua terasa dingin. Ini jantungku berdegup tanpa ada rasa bahagia. Semua benar-benar biasa. Tidak ada satu pun warna yang dapat melukis kedua bibir.

    Aku selalu berharap kelak kamu akan pulang dan kembali membahagiakanku. Setiap hari, saat senja pulang ke tempatnya, aku selalu menitipkan rindu di sana. Saat purnama menyapa, tak luput aku juga menitipkan rindu dengan alasan yang sama: Aku ingin kamu pulang. Itu saja. Dan, sesederhana itu pintaku pada Tuhan.

     Aku ingin merengkuh jemarimu seperti yang sering dulu kulakukan. Lalu, kamu gamit tanganku erat. Aku rindu perihal yang pernah kita lewati bersama. Aku rindu senyum yang tampak keasliannya. Senyum yang memang benar-benar aku sedang bahagia karenamu. Bukan seolah-olah aku jadikan senyum sebagai senjata pelipur luka.

     Hingga akhirnya aku tersadar, bahwa aku pun tidak seharusnya menjadi aku untuk kesekian lamanya. Aku harus menjadi aku yang baru. Menjadi aku yang lain. Menjadi aku yang bisa dan terbiasa tanpamu. Sejujurnya, itu sangatlah menyakitkan. Sebab aku harus melawan arus hatiku sendiri. Dan ketahuilah, itu tak mudah seperti apa yang kamu terka. Aku harus dengan segera menghapus segala rasa.

     Jika pada akhirnya aku gagal, mungkin aku akan kembali menjadi aku yang dulu. Aku yang tetap mencintaimu, walau kamu tidak lagi pernah membuka hatimu untukku. Aku yang tetap merindukanmu, walau kamu tidak lagi pernah mendengarkan lara tentang rinduku. Biar aku tenggelam bersama senja dengan rindu yang sama. Biar purnama menerangi malam-malam gelapku dengan rindu yang sama pula.

    Kelak, akan ada senja-senja yang lain yang dapat mengukir senyumku. Senja yang beda, di tempat yang berbeda. Kelak, akan ada rekatan bintang yang lain yang menerangi malam gelapku. Sehingga aku tidak lagi harus menitipkan rindu dengan alasan yang sama.

Jumat, 25 Maret 2016

Catatan Untukmu

Jaga pola makan yang betul. Jaga kesehatanmu. Aku tahu kau orang yang menyepelekan sakit. Selalu sibuk dengan kegiatanmu tanpa memikirkan badanmu yang semakin kecil itu. Kumohon bacalah ini dan terapkan walau jarang. Aku bukan lagi seorang yang seharusnya ada, aku bukan lagi seorang yang seharusnya hadir.

Kemarin adalah kita. Esok entah siapa dan hari ini adalah kesendirian. Aku menjadi bodoh diantara hiruk pikuk semesta. Aku menjadi bisu diantara pembicara. Aku menjadi tuli diantara perhatian yang tertuju padaku dan aku mesti menjadi badut diantara bahagiamu. Berkamuflase menjadi seorang penghibur, dirias senyum dengan bola merah kecil dihidungku; merubahku menjadi aku yang hidup dengan kemunafikan.

Aku mengatakan ya pada saat kamu enyah. Aku mengatakan baik pada saat kamu mencoba pindah. Aku mengatakan tak apa pada saat kamu bermigrasi. Aku mengatakan kata yang tak seharusnya kukatakan. Aku mendeklamasi wajah penuh kebohongan. Aku mencoba normal diantara organ yang mulai tak waras, seningga kini aku menjadiorang yang tak pernah lekas.

Setiap malam ada yang datang mengetuk pintu waras menjelang malam dipusat kantukku. Semburat nama yang menjuntai di kepala. Aku sedang tak mabuk lagi pula aku tak suka minum. Tubuhku normal dan tekanan darahku juga tak sedang turun. Apa aku berhalusinasi? Entahlah apa itu. Yang kutahu perasaan itu datang pada pembaringan yang menghadirkan gelisah sampai fajar.

Kamu adalah apa yang pernah kujadikan segala. Dalam hariku, kujadikan kau semogaku. Dalam tali yang mengikat diantara, kujadikan sebagai pengharapan. Aku menulis karena aku ingin. Aku menulis karena aku pecundang. Mencintaimu dalam kata adalah bunuh diri. Menyayangimu dalam puisi adalah mengurung diri; memahat bahagiaku. Menyerpih dengan abu jalan dan bertahan hidup dari kedurjanaan.

Rabu, 28 Oktober 2015

Masihkah Ada

Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku
Terkulai di kunyah nelangsa yang berapi-api
Menyusuri jalan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan

Dalam derap gerimis yang tajam menghujam
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yang menenggelamkan nurani
Di atas pengharapan tak berkesudahan

Tentang rindu kusam, tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah
Gundah gelisah airmata dan lara

Masihkah ada sedikit senyum darimu
Di batas panantianku yang kini makin terbata
Jika masih ada di ruang hatimu untukku
Sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan

Setidaknya biar ada kata yang bisa ku baca dan ku raba
Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena aku selalu berjalan menujumu

Jumat, 25 September 2015

Catatan Yang Tertunda

Seharusnya ini adalah catatan tadi malam, ketika dengan mudahnya potretmu kembali mengobrak-abrik perasaan,
Ternyata masih belum cukup kuat hatiku, bahkan hanya untuk membendung perasaan yang sama sekali tak asing bagiku,
yang telah kukenal baik setiap getar dibaliknya selama 9 tahun terakhir.

Tapi ternyata memang aku tak mampu meredamnya, hingga rasanya lemas lututku.

Harusnya ini memang catatan tadi malam, entah karena perasaan bahagia bahwa semalam kau ada dan kita bisa berada dalam satu media, merasa tak nyata padahal nyata, bahwa kau ada disana menatap layar yang sama

Aku tak sanggup merangkai semua ini tadi malam, saat malam menjadi terlalu indah untuk dilewatkan tapi juga terlalu sempurna untuk hanya direnungi

Terimakasih, tidurku nyenyak tadi malam.

Detik, menit, jam, hari, minggu, tahun, tahun-tahun, dan entah jenis hitungan waktu apalagi.
Rasanya jika tentangmu semua hanya menjadi tumpukan angka tanpa makna, seolah kosong tak berarti, karena seberapa panjang pun angka-angka penanda waktu itu berderet, rasanya tak akan mampu mengubah apa yang telah kau ubah dalam satu detik waktu masa lalu, tak mampu menghentikan perputaran yang bahkan berjalan lebih cepat dari waktu itu sendiri.

Hingga mungkin justru waktu lah yang akan menjadi usang dan malu karena terlalu lelah menanti aku berhenti mencintaimu. 

Aku percaya keajaiban itu nyata, Dan aku tahu aku tak boleh berhenti, ketika Tuhan dengan caraNya membawamu kembali ketika aku memutuskan untuk menyerah. Tepat selangkah sebelum aku melakukannya. 

Sabtu, 05 September 2015

Tidak Pandai Pada Tempatnya

Kita sering berusaha mengatur emosi agar mempunyai hubungan yang baik pada pasangan. Kita berusaha percaya pada orang yang sering kita sebut ‘Pacar’ bahwa mereka tak akan bermain hati dengan yang lain. Kita selalu berlaku dewasa agar orang sekeliling menganggap bahwa kita begitu bijak. Kita begitu manis dan sopan pada atasan karena takut gaji tidak naik atau takut tidak akan dipromosikan.

Tapi, kita hampir lupa bagaimana merendahkan volume suara depan Ibu ketika beliau berusaha meluruskan jalan yang kita ambil. Tapi, kita hampir lupa bagaimana rasanya menghormati guru ketika mereka dengan ikhlas mengajar. Kita hampir lupa memberi waktu pada teman yang butuh bantuan karena sibuk pacaran.

Iya, kita pandai. Betapa kita pandai menjadi palsu. Berapa kesempatan yang kita buang untuk menjadi bahagia? Berapa nasihat berharga orang tua yang kita sia-siakan? Berapa pula gombalan pacar yang kita makan setiap hari? Kenyang? Kita takut kehilangan orang yang sebenarnya semu, tapi kita tidak menghiraukan orang yang begitu jelas dan tulus rasa sayangnya. Penyesalan baru terasa ketika umur orang tua tak sepanjang yang kita inginkan. Sakit baru terasa ketika kasih sayang tak sehangat ketika mereka masih ada. Begitu banyak waktu terbuang ketika kita mengkhawatirkan pasangan yang sakit tapi cuek mendengar permintaan Ibu yang padahal hanya ingin dipijit.

Selain pandai kita pun begitu rajin. Rajin mengangkat telepon pasangan meskipun dalam keadaan sibuk. Kita rajin membalas pesan mereka walaupun tugas kita begitu menumpuk. Tapi apa pernah kita terbebani dengan keterlambatan kita untuk ibadah dengan tepat waktu atau sejenak menjawab adzan bahkan ketika kita sedang santai?

Maut tak akan terlambat pun tak akan datang terlalu awal. Penyesalan tak akan menginformasikan kapan ia akan bercokol. Semoga kita pandai dan dewasa pada tempatnya.