Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Bagaimana lelahnya

Bolehkah aku menceritakannya di sini Perihal sebab tubuhku menjadi rapuh, Atau perihal tangis yang berusaha aku luapkan, Namun enggan ia menetes. Bolehkah aku ceritakan bagaimana sakitnya, bagaimana lelahnya menjadi baik-baik saja. Bagaimana lelahnya menjadi baik-baik saja Saat mulai terjatuh dalam kubangan luka yang sama Untuk ke sekian kali terperangkap bodoh

Berbicara Tentang...

Berbicara tentang cinta, aku selalu ingin kembali ke masa di mana cinta masih sebatas rasa penuh tanda tanya tanpa ada bahaya akan luka dan nestapa. Kembali ke masa di mana cinta benar-benar indah sebagaimana yang dituturkan para susastra. Aku senang bermain-main dengan ingatan; Mengingat kembali betapa lugunya diriku pada masa itu yang menggilaimu dengan sangat namun tidak pernah benar-benar berani untuk mengikat. Mengingat kembali bagaimana jantungku berdetak cepat saat kau menatapku lekat. Merasakan kembali tubuhku yang gemetar saat berdekatan. Melihat kembali senyummu yang hampir tenggelam dalam lusinan kebohongan. Rekam jejak tentang cinta padamu adalah sesuatu yang paling menyenangkan untuk dikenang. Mengingatkan betapa aku pernah memiliki cinta yang amat sederhana. Cinta yang bisa membuat aku bahagia hanya dengan melihatmu saja.

Tidak Pandai Pada Tempatnya

Kita sering berusaha mengatur emosi agar mempunyai hubungan yang baik pada pasangan. Kita berusaha percaya pada orang yang sering kita sebut ‘Pacar’ bahwa mereka tak akan bermain hati dengan yang lain. Kita selalu berlaku dewasa agar orang sekeliling menganggap bahwa kita begitu bijak. Kita begitu manis dan sopan pada atasan karena takut gaji tidak naik atau takut tidak akan dipromosikan. Tapi, kita hampir lupa bagaimana merendahkan volume suara depan Ibu ketika beliau berusaha meluruskan jalan yang kita ambil. Tapi, kita hampir lupa bagaimana rasanya menghormati guru ketika mereka dengan ikhlas mengajar. Kita hampir lupa memberi waktu pada teman yang butuh bantuan karena sibuk pacaran. Iya, kita pandai. Betapa kita pandai menjadi palsu. Berapa kesempatan yang kita buang untuk menjadi bahagia? Berapa nasihat berharga orang tua yang kita sia-siakan? Berapa pula gombalan pacar yang kita makan setiap hari? Kenyang? Kita takut kehilangan orang yang sebenarnya semu, tapi kita t...

KATA MAGIS

Ada saat aku lelah dengan hidupku sendiri.. Itu kemarin Ada saat aku menangisi jalan yang tergariskan untukku.. Itu dulu Berarti aku kelelahan kemarin, Saat hujan turun begitu deras Membuat aku terhenyak dalam sapanya Aku tak bisa jadi impian, Karena sebenarnya aku pemimpi Aku tak bisa jadi harapan, Karena sebenarnya aku pengharap Aiiiiih.... Saat ini aku tak pandai menata perasaanku Hujan yang semula lebat Berhenti dengan sepatah kata magis itu Seakan ia juga ingin mendengar kata yang tercipta dari hatiku Bahwa, "Aku Mencintaimu" Me and Mine in a Dream :)